Suaranya sebentar meninggi dan sebenar kembali normal. Kedengarannya Sukardi berulang kali menyebut kata-kata PLN. Bahkan nada kesal terhadap pelayanan PLN juga terdengar dari perbincangannya dengan orang yang menelpon.
"Ada warga menanyakan solusi bagaimana mengatasi listrik ini supaya tak lagi hidup mati..hidup mati. Tentu saya belum mampu memberi jawaban kongkrit, terlebih lagi YLKI bukan dipihak pembuat kebijakan," celetus Sukardi kepada Tribun usai menerima telepon.
Perbincangan makin menarik ketika ia ikut membaca headlina halaman utama harian Tribun Pekanbaru, edisi Sabtu (30/8) kemarin, yang menyajikan soal janji PLN, tak akan mematikan listrik pada jam-jam berbuka dan makan sahur selama ramadhan.
Bernada datar apa yang dijanjikan PLN, Sukardi berharap betul-betul bisa diwujudkan. Sebab beberapa hari belakangan ini, telepon genggamnya acap kali berbunyi menerima telepon warga yang menanyakan apakah selama bulan ramadhan listrik tetap juga hidup mati.
"Saya hanya bilang, kita berharap minimal pada jam-jam berbuka dan makan sahur tetap menyala. Sekarang PLN sudah berjanji, syukur-syukur apa yang menjadi janji itu bisa ditepati," ujarnya saat berbincang dengan Tribun di sebuah kedai kopi Jl Hangtuag, Pekanbaru.
Sejenak kemudian Sukardi mengeluarkan kertas putih yang berisikan tulisan seputar persoalan listrik. Banyak hal yang dikupas dalam tulisannya. Namun menurutnya tulisan itu belum sempurna untuk disajikan ke publik. Ia masih butuh referensi lain agar tulisannya lebih mengena.
Sekilas dapat cerna, tulisan itu menggambarkan kegundahan hatinya dibalik pemadaman bergilir yang dirasakan tak berujung. Alasan PLN pemadaman bergilir ini dampak berkurangnya debit air di kawasan PLTA Koto Panjang, mulai ia ragukan.
Bahkan belakangan alasan demi alasan terus bertambah, mulai dari alasan kerusahan pembangkit di Singkarak sampai Ombilin. Begitu PLTA Ombilin membaik, alasan berpindah bahwa sejumlah pembangkit yang melakukan interkoneksi ke PLN sudah mulai uzur.
Alasan-alasan itu menimbulkan pertanyaan besar dipikirannya. Apakah ini hanya akal-akalan PLN belaka atau ada motif lain. Bisa jadi bermotif mencari keuntungan guna menutupi kerugian yang dialami PLN.
Buktinya kendati hampir setiap enam jam perhari listrik mati, namun pembayaran tetap saja normal. Idealnya kan biaya tagihan ke masyarakat konsumen bisa berkurang. Bayangkan saja dalam sehari bisa mati enam jam. Kalau dikali 30 hari, sudah berapa jam mati?
Mestinya sudah berapa duit pula bisa berkurang dari pembayaran normal. Tapi buktinya tidak demikian. Masyarakat tetap bayar seperti tagihan normal bahkan ada yang melonjak.
Dibalik pemadaman bergilir ini, PLN juga ikut untungkan dengan berkurangnya biaya operasional. Apakah ini ada benarnya, jawabannya hanya PLN yang tau.
Terlepas dari itu, Senin (1/9) besok masyarakat muslim mulai menjalankan ibadah puasa hingga 30 hari kedepan. Jika belum mampu meniadakan pemadaman bergilir, paling tidak janji untuk tidak mematikan listrik pada jam berbuka dan sahur bisa diwujudkan. Mudah-mudahan. (Kasri)

