22 Februari 2009

Ayo berkampanye praktis

Di sejumlah persimpangan jalan di Kota Pekanbaru, termasuk di sejumlah daerah di pelosok nusantara, terdapat banyak baleho, spanduk, pamflet dan lain sebagainya, mewarnai wajah kota, dengan foto-foto para calon legislatif.
Namun belakangan ini, selain banyak ditertibkan petugas, banyak juga ditertibkan oleh tangan-tangah jahil. Ada foto caleg yang tak berkepala lagi akibat disobek. Ada juga yang dicoret, bahkan caleg yang tak berkumis, malah diberi kumis dan lain-lain.
Praktis kondisi ini sungguh merugikan para caleg. Sebab membuat baleho, spanduk atau pun pamflet, tak sedikit dana yang sudah dikeluarkan. Belum lagi keberadaaan ratusan baleho, spanduk dan pamflet membuat bingung masyarakat melihat dan membacanya.
Maka bisa dikatakan teknis kampanye dengan baleho, spanduk dan pamflet tak lagi efektif untuk mengangkat popularitas seseorang. Apalagi pada baleho, spanduk dan pamflet tidak disertakan visi misi sang caleg serta latarbelakangnya.
Dalam rentang waktu yang relatif singkat, kini ada solusi cara berkampanye efektif dan efisien, yakni membuat bulletin mini, lengkap dengan profile sang caleg. Kemudian memberi contoh kepada masyarakat bagaimana cara mencontreng yang benar.
Di bulletin mini ini juga mengupas habis latar belakang sang caleg, yang barang tentu bisa mengangkat popularitas sang caleg bersangkutan. Ada juga komentar-komentar para tokoh yang berpengaruh di daerah pemilihannya untuk mengomentari sosok sang caleg.
Kemudian sejumlah kegiatan yang sudah didokumentasikan, bisa juga ditampilkan di bulletin ini. Pokoknya siiip deh..
Teknis penyebarannya. Hanya diedarkan di masyarakat pemilih sang caleg dan jika perlu langsung di antar langsung dari rumah ke rumah. Alhasil masyarakat yang membacanya, tak hanya sekedar tau dengan sosok sang caleg, tapi akan mampu menuntun pembaca untuk memilihnya pada 9 April 2009 mendatang.
Bulletin mini ini juga mampu menembus masyarakat yang selama ini tak tersentuh dengan media massa. Sebab penyebaran media massa di tengah masyarakat setakad ini masih terbatas.
Praktiskan…? Jika tertarik, segera hubungi ke 081537400147. Insya Allah dalam seminggu sudah bisa selesai pengerjaannya dan segera cetak sebanyak-banyaknya untuk disebarkan ke masyarakat pemilih. Dijamin praktis dan biayanya sangat terjangkau.
Sejumlah caleg yang sudah membuat bulletin mini ini mengaku puas, karena mampu mengangkat popularitas dengan pencitraan positif. Kini giliran yang lain. Tunggu apa lagi, karena waktu akan terus berjalan…

Keterangan Gambar
Contoh beberapa bulletin mini yang pernah diterbitkan

12 Februari 2009

Cedera Engkel Permanem

BEGITU masuk ke ruang Manejer Redaksi, Chandra Dani, saya langsung ditodong harus ikut bermain dalam tim sepak bola FC Tribun Pekanbaru, dalam perhelatan Liga Media Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau.
Jelas saya tak menolaknya, kendati dalam hati sedikit berat. Sebab selain sudah tak pernah lagi latihan, saya sudah mengalami cidera engkel permanen. Begitu main nanti, dapat dipastikan cedera saya pasti kambuh kembali.
Tapi tak apa lah. Demi FC Tribun, saya harus turun dulu. Begitu sudah saatnya cidera kambuh, bisa minta diganti. Terpenting tampil. Sepak bola memang olahraga saya sedari kecil, bahkan pernah jadi bintang lapangan saat masih sekolah dulu..(entah iyo entah tidak)
Kepiawain saya memoles sikulit bundar, untuk ukuran wartawan, bisa dikatakan cukup lumayan lah. Kendati sebenarnya sudah jauh luntur dari kepiwaian saya sesungguhnya (he...he...he). Mudah- mudahan keberadaan saya di tengah lapangan bersama kawan-kawan, ikut membantu FC Tribun Pekanbaru.
Hasil drawing dalam technical meeting yang digelar Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2009, Kamis (12/2), di Kantor PWI Riau, Jl Sumatera, Pekanbaru, peserta di bagi dalam dua grup. Grup A dihuni lima tim, Riau Pos, Metro Riau, Koresponden, Pekanbaru Pos dan Tribun Pekanbaru.
Sementara Grup B, dihuni Riau Mandiri, Tabloid Plus, TVRI Riau dan RTV Pekanbaru. Keberadaan FC Tribun Pekanbaru satu grup dengan juara bertahan Riau Pos, Pekanbaru Pos dan Metro Riau, sudah dapat dibayangkan betapa beratnya perjuangan. Sebab mereka tim kuat.
Istilah orang olahraga, grup A ini grupnya maut (ngeriiiii). Sudah bisa dibayangkan seperti apa ganasnya di grup maut itu. Jelas siapa yang lemah segera tewas. Apakah FC Tribun Pekanbaru tergolong tim lemah. Di lihat dari track record-nya, FC Tribun Pekanbaru acap kali jadi lumbung gol oleh tim lainnya.
Mudah-mudahan perhelatan kali ini tak lagi terjadi. Sebab sejumlah teman-teman ada yang rajin latihan sepak bola, kendati hanya sepak bola futsal. Paling tidak stamina kawan-kawan sudah terlatih untuk berlari keliling lapangan yang ukurannya tak ketolongan lebarnya. Bravo FC Tribun Pekanbaru. (Kasri)

Teks Foto: Bersama teman-teman di sela kesibukan kerja. Dari kanan: Hendra yang sekarang ditugaskan di Siak Sriindrapura, Ema yang sekarang di Dumai, Kasri dan Hengki di Pekanbaru.

11 Februari 2009

Mudah-mudahan tak Betongka

Jam 10 pagi ada rapat tentang Meranti di ruang rapat Gubernur Riau, antara Badan Perjuangan Pembentukan Kabupaten Meranti (BP2KM) dengan Pemerintah Provinsi Riau.

Mendapat Short Message Service (SMS) demikian, saya langsung bergegas ke kantor Gubernur Riau, Jl Sudirman, Pekanbaru, tempat biaso sayo mangkal. Eh sampai di situ, tak ado tanda-tanda berlangsungnya rapat. Seorang pegawai kantor gubernur lalu berceletuk. Rapat tak jadi dilakukan. Sebab katanya, orang-orang BP2KM tak mau ditemui oleh Asisten I Setdaprov Riau Abdul Latif. Mereka maunya ingin bertemu Gubernur Riau, HM Rusli Zainal.
Saat bersamaan sang gubernur memang tengah mendampingi Menteri Perdagangan DR Mari Elka Pangestu. "Kok tak mau diwakili asisten. Mungkin ada hal yang penting yang akan mau dibisikkan. Maklum lah mereka (BP2KM) itu kan berjasa atas terbentuknya Meranti," guman seorang wartawan.
Apakah ini menyangkut soal Plt Bupati Meranti yang akan mau diusulkan gubernur besok, Kamis (12/2) ke Mendagri. Sebab hingga tadi nama-nama yang mau diusulkan masih disembunyikan rapat- rapat oleh para pejabat di Sekdaprov Riau.
Mungkin saja mereka ingin memberi masukan, orang yang tepat menjadi Plt Bupati itu harus orang yang seperti ini...seperti ini dan seterusnya. Bukan orang-orang yang selama ini berseberangan. Ini menurut analisa sayo saja dan hanya saya yang tahu. Kecuali yang sudah buka blog ini.
Atau bisa jadi mau mengucapkan terima kasih, karena Gubernur Rusli sudah mengeluarkan rekomendasi terbentuknya Kabupaten Meranti, terpisah dari kabupaten induk Bengkalis. "Teponting jangan sampai betongka (bertengkar) sesamo uyang Meranti. JIka iko terjadi, maka tujuan pemekaran Meranti tak akan tecapai," dalam hati sayo.
Di hari yang sama, sejumlah media lokal menulis statamen pembina Disiplin Ikatan Keluarga Pendidikan Pamong Praja, Najib Efendi. Ia mengarapkan Plt Bupati Meranti adalah orang netral. Sebab proses pembentukan Kabupaten Meranti ini agak rumit dan menempuh jalan yang cukup panjang.
''Prosesnya sempat diwarnai prokontra antara Kabupaten induk Bengkalis dan Pemprov Riau. Oleh sebab itu Plt Bupati-nya harus benar-benar orang netral,'' katanya.
Menyangkut sosok, diharapkan orang Riau pesisir, yang bisa diterima oleh Pemkab Bangkalis dan Pemprov Riau. Sebab dalam pembangunan diperlukan komunikasi dan koordinasi yang baik, ''Apalagi Meranti ini baru lahir yang butuh perhatian lebih dalam pembangunan insfratruktur,'' ujarnya.
Dari figur yang ada, Najib menilai sosok Syamsuar pantas untuk duduk sebagai Plt, karena Syamsuar memiliki kriteria dan memenuhi syarat serta berpengalaman cukup. Syamsuar pernah menjabat Kadispenda di Bengkalis dan Wakil Bupati di Kabupaten Siak.
"Sebagai mantan Kadispenda dia tentu tahu cara menggali PAD Meranti, dan sebagai mantan Wakil Bupati Siak, beliau berpengalaman memimpin,'' ucapnya.
Memang ada Said Hasyim, namun beliau tak mungkin ditunjuk Plt oleh Gubernur Riau, HM Rusli Zainal SE, MP. Sebab saat ini yang bersangkutan nonjob. (Kasri)

08 Februari 2009

Rasa-rasa Nonton Laskar Pelangi

HAIIII Laskar Pelangi murid-murid Bu Muslimah pindah ke Pekanbaru? Ahhh ternyata bukan. Budak- budak (anak-anak dalam bahasa melayu) yang berkumpul di rumah bercat biru, Desa Bukit Jamin, Kelurahan Sail, Kecamatan Tenayan Raya, itu selintas mirip kumpulan bocah di Belitung yang digambarkan Novelis Andre Herata.
Puluhan budak berkumpul di bangunan sederhana, berjarak hanya 10 kilometer dari Kota Pekanbaru. Ada yang sibuk membaca, tapi ada pula bercanda dengan temannya.. Ahhhh memang selintas mirip SD Muhammadiyah di Belitong yang digambarkan novel Laskar Pelangi.
Ketua LSM Global sekaligus pengelola sekolah ini, Aca Manurung mengungkapkan, dari 100-an orang anak dididinya itu, sebagian di antara mereka merupakan komunitas perantauan dari Nias dan ada juga pengungsi korban Tsunami Nias tahun 2005 silam.
"Sebelum ada lokal ini, anak-anak belajarnya di bawah-bawah pohon dan alam terbuka dengan pakain compang camping," ujarnya kepada sejumlah wartawan seraya menunjukkan ke arah lokal seadanya yang dibangun hasil swadaya masyarakat sekitar, Sabtu (7/2) lalu
Dengan adanya sekolah ini, sambung Aca, maka pendidikan yang mereka dapatkan di bangku sekolah formal dapat lebih maksimal diterapkan. "Kita di sini memberikan pelajaran tambahan berupa bahasa Inggris, menulis dan berhitung setiap Sabtu dan Minggu," tambah Aca.
Praktisi pendidikan Riau, Erna Willianti, yang ikut mengunjungi kondisi tempat belajar tersebut mengaku salut dan bangga atas hadirnya sekolah yang telah tiga tahun berdiri. Menurutnya peran serta masyarakat dalam memajukan pendidikan di Riau sangat dibutuhkan.
"Mereka merupakan bagian dari bangsa ini dan asset berharga, maka sudah sepatutnya kita memberikan dukungan moril dan materil untuknya," ujar Erna yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Witama Internasional School, Pekanbaru ini.
Melihat tingginya semangat belajar para anak didik, Erna pun sudah menurunkan tenaga pengajar bahasa Inggris secara cuma-cuma. "Mudah-mudahan ikut membantu dan memberikan manfaat untuk kemajuan sekolah ini," ungkap Erna.
Dalam kesempatan itu Erna juga menyalurkan bantuan alat tulis dan paket makanan kepada 120 orang anak yang mengikuti pelajaran tambahan tersebut. "Kita berharap, kedepan pemerintah dapat membangun Sekolah Dasar Negeri di desa ini, sebab sekolah formal jauh dari desa," harap Erna.
Tokoh masyarakat setempat, Husein, juga mengeluhkan jeleknya transportasi jalan dan tak adanya energi listrik. "Sudah 15 tahun kami bermukim di sini, listrik dan jalan beraspal belum pernah kita nikmati," ujar Husein. (Kasri)

Teks Foto:
Bu Erna Willianti, didampingi Acha Manurung, berada di depan para murdi sekolah non formal yang dikelola LSM Global.

07 Februari 2009

Syukur-syukur Listrik tetap Menyala

PERBINCANGAN saya dengan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Riau, Ir Sukardi Alizahar, terpaksa dihentikan sejenak. Sebab telepon genggamnya tiba-tiba berdering. Cukup lama ia berbincang dengan orang diseberang sana.
Suaranya sebentar meninggi dan sebenar kembali normal. Kedengarannya Sukardi berulang kali menyebut kata-kata PLN. Bahkan nada kesal terhadap pelayanan PLN juga terdengar dari perbincangannya dengan orang yang menelpon.
"Ada warga menanyakan solusi bagaimana mengatasi listrik ini supaya tak lagi hidup mati..hidup mati. Tentu saya belum mampu memberi jawaban kongkrit, terlebih lagi YLKI bukan dipihak pembuat kebijakan," celetus Sukardi kepada Tribun usai menerima telepon.
Perbincangan makin menarik ketika ia ikut membaca headlina halaman utama harian Tribun Pekanbaru, edisi Sabtu (30/8) kemarin, yang menyajikan soal janji PLN, tak akan mematikan listrik pada jam-jam berbuka dan makan sahur selama ramadhan.
Bernada datar apa yang dijanjikan PLN, Sukardi berharap betul-betul bisa diwujudkan. Sebab beberapa hari belakangan ini, telepon genggamnya acap kali berbunyi menerima telepon warga yang menanyakan apakah selama bulan ramadhan listrik tetap juga hidup mati.
"Saya hanya bilang, kita berharap minimal pada jam-jam berbuka dan makan sahur tetap menyala. Sekarang PLN sudah berjanji, syukur-syukur apa yang menjadi janji itu bisa ditepati," ujarnya saat berbincang dengan Tribun di sebuah kedai kopi Jl Hangtuag, Pekanbaru.
Sejenak kemudian Sukardi mengeluarkan kertas putih yang berisikan tulisan seputar persoalan listrik. Banyak hal yang dikupas dalam tulisannya. Namun menurutnya tulisan itu belum sempurna untuk disajikan ke publik. Ia masih butuh referensi lain agar tulisannya lebih mengena.
Sekilas dapat cerna, tulisan itu menggambarkan kegundahan hatinya dibalik pemadaman bergilir yang dirasakan tak berujung. Alasan PLN pemadaman bergilir ini dampak berkurangnya debit air di kawasan PLTA Koto Panjang, mulai ia ragukan.
Bahkan belakangan alasan demi alasan terus bertambah, mulai dari alasan kerusahan pembangkit di Singkarak sampai Ombilin. Begitu PLTA Ombilin membaik, alasan berpindah bahwa sejumlah pembangkit yang melakukan interkoneksi ke PLN sudah mulai uzur.
Alasan-alasan itu menimbulkan pertanyaan besar dipikirannya. Apakah ini hanya akal-akalan PLN belaka atau ada motif lain. Bisa jadi bermotif mencari keuntungan guna menutupi kerugian yang dialami PLN.
Buktinya kendati hampir setiap enam jam perhari listrik mati, namun pembayaran tetap saja normal. Idealnya kan biaya tagihan ke masyarakat konsumen bisa berkurang. Bayangkan saja dalam sehari bisa mati enam jam. Kalau dikali 30 hari, sudah berapa jam mati?
Mestinya sudah berapa duit pula bisa berkurang dari pembayaran normal. Tapi buktinya tidak demikian. Masyarakat tetap bayar seperti tagihan normal bahkan ada yang melonjak.
Dibalik pemadaman bergilir ini, PLN juga ikut untungkan dengan berkurangnya biaya operasional. Apakah ini ada benarnya, jawabannya hanya PLN yang tau.
Terlepas dari itu, Senin (1/9) besok masyarakat muslim mulai menjalankan ibadah puasa hingga 30 hari kedepan. Jika belum mampu meniadakan pemadaman bergilir, paling tidak janji untuk tidak mematikan listrik pada jam berbuka dan sahur bisa diwujudkan. Mudah-mudahan. (Kasri)

Berharap Totalitas Asrul dan Jefry

PERTARUNGAN perebutan kursi legislatif segera ditabuh. Berkas-berkas yang diisyaratkan dalam undang-undang sudah diserahkan masing-masing partai ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), baik ke kantor pusat, provinsi maupun kabupaten.
Untuk di Provinsi Riau proses pencalegan mulai menarik perhatian. Bahkan mereka yang akan ikut terlibat beragam latar belakang kehidupan. Ada mantan pejabat, akademisi, aktivis LSM, kalangan pengusaha, pengacara, tokoh masyarakat, wartawan dan para politisi itu sendiri.
Mantan pejabat sebut saja Mantan Bupati Kuansing, Asrul Jafar, yang akan maju dengan bendera Partai Demokrat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kuansing-Inhu. Ikut juga Mantan Bupati Kampar Jefri Noer yang juga menggunakan bendera Demokrat dari Dapil Kampar.
Kendati selama ini kurang di dengar perannya di partai pengusung, kedua tokoh ini malah mendapat nomor urut istimewa atau istilah orang-orang politik nomor urut jadi. Artinya peluang terpilih cukup besar. Masyarakat pun menaroh harapan besar totalitas keduanya.
Kita juga mendengar dua nama calon Gubernur Riau yang juga ikut mendaftar sebagai caleg. Sebut saja Rusli Zainal untuk kursi DPR RI, Thamsir Rachman untuk kursi DPRD Riau dari Dapil Dumai- Bengkalis, termasuk Gubernur Riau Wan Abubakar untuk kursi DPR RI.
Calon wakil gubernur Suryadi Khusaini dan Taufan Andoso Yakin, juga tak luput ikut mencaleg dari partainya masing-masing, plus beberapa nama ngetop lainnya yang selama ini memang sudah menikmati empuknya kursi legislatif.
Seperti Fendri Jaswir dari PAN, Abu Bakar Siddik dari Golkar, Bambang Tri Wahyono dari Partai Buruh, Azwir Alimuddin dari PPP, Helmi Burman dari PBR, Suhardiman Amby dari PKNU, Hasyim Aliwa dari PKS dan lain-lain.
Mengapa mereka-mereka ini berebut ingin menjadi wakil rakyat, bahkan tak jarang di antara mereka saling sikut, guna mendapatkan nomor urut jadi atau bisa mendapatkan dapil yang selama ini memang menjadi basis massanya.
Mungkin sudah dapat ditebak jawabannya. Semuanya mengaku ingin menjadi penyambung lidah rakyat yang baik. Tapi terlepas dari itu, kursi empuk legislatif jelasnya akan mampu mengangkat derajat seseorang, baik kedudukan sosialnya maupun ekonomi rumahtangganya.
Anehnya, rakyatnya sendiri yang ia wakili tak jarang semakin jauh di jurang keterpurukan, baik kedudukan sosialnya maupun ekonomi rumahtangganya. Hal ini disebabkan sulitnya keluar dari lubang jarum kemiskinan, sementara wakilnya di legislatif makin mentereng.
Itu lah mungkin enaknya menjadi anggota legislatif. Gaji besar dan 'pendapatan' melimpah plus kerjanya relatif ringan, bahkan terkadang malah jarang masuk kantor. Maka tak heran begitu pemilihannya kembali ditabuh, ramai-ramai orang ingin menjadi wakil rakyat.
Untuk periode mendatang, mudah-mudahan gaji dan pendapatan yang besar, bisa diimbangi dengan totalitasnya memperjuangkan kepentingan rakyat. Rakyat berharap tak lagi sulit mendapatkan sembilan bahan pokok (sembako) atau kebutuhan pokok lainnya. Amin.(Kasri)

Tegakkan Demokrasi Seutuhnya

LEBARAN lalu saya pulang ke kampung halamanku, Desa Teluk Pulau Hilir, Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir. Dari rumah ke rumah waktu itu masih hangat membicarakan hasil Pilkada Riau yang dimenangkan RZ-MM.
Ketika itu memang belum diketahui berapa persentase kemenangan RZ-MM, namun hasil penghitungan cepat yang diselenggarakan lembaga survai yang ada, sudah mengisyaratkan duet Rusli Zainal- Mambang Mit (RZ-MM) menang mutlak dari kontestan lainnya.
Kemenangan mutlak juga diperoleh duet RZ-MM di Kabupaten Rokan Hilir, persentasenya bahkan lebih 70 persen. Ditarik lebih mikro lagi, di desa ku, Teluk Pulau Hilir, RZ-MM juga menang mutlak, persentasenya lebih 60 persen.
Bagaimana strateginya. Ada yang menyebutkan oknum perangkat desa langsung pasang badan sebagai tim sukses dan diberi target. Jika target tak tercapai, bisa copot jabatan. Bahkan desa yang kalah diancam tak dibangun. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat.
Dahsyat memang. Tapi ini lah fakta yang saya dengar. Namun maksud hati yang ingin saya sampaikan, apakah ini potret demokrasi kita yang sudah berpuluh tahun merdeka. Mungkin hal serupa bisa ditemukan di daerah lainnya di bumi pertiwi ini.
Menurut teori yang pernah saya baca, demokrasi yang berasal dari perkataan Yunani, dimaknai sebagai kekuasaan rakyat, atau suatu bentuk pemerintahan negara, dimana rakyat berpengaruh di atasnya, atau pemerintahan rakyat.
Sungguh kita senang mendengar makna demokrasi itu. Sebab negara kita ini disebut-sebut negara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Negara demokrasi berarti suatu negara yang sungguh-sungguh melaksanakan kehendak rakyat yang sebenarnya.
Tapi sayang, demokrasi sepertinya hanya sebagai mantra oleh oknum elite, tanpa memahami dan menghayati makna yang ada di dalamnya. Maka tak jarang para elite melahirkan berbagai tindakan yang tidak dilandasi etika dan moralitas.
Akibatnya, masyarakat pun terkadang tak berdaya dibuatnya agar kehendak elite terpenuhi. Masyarakat tak mampu menentukan pilihan sesuai hati nuraninya. Masyarakat Desa Teluk Pulau Hilir, mungkin potret kecil korban tak berjalannya demokrasi kita.
Tapi sudah lah. Semuanya sudah berlalu dan duet RZ-MM secara legalitas sudah dinyatakan sebagai pemenang Pilkada Riau. Bahkan gugatan para pihak yang merasa tak puas kandas di meja hijau pengadilan Mahkamah Agung.
Kini kita mulai menyonsong Pemilu Nasional 2009 dan Pilpres yang sudah diambang pintu. Mari kita tegakkan makna demokrasi sesungguhnya secara utuh. Biarkan masyarakat menentukan pilihannya sesuai hati nurani.
Masyarakat juga harus cerdas menentukan sikapnya dan harus berani bersikap demokrasi. Jangan mau ternoda janji dan politik 'kain sarung', termasuk intimidasi. Jika ini sudah berjalan dengan baik sesuai relnya, maka bersiap-siaplah menyongsong Indonesia Jaya. Amin. (Kasri)